Kemiskinan adalah potret buram provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang seakan tak pernah surut dari waktu ke waktu. Meski penanggulangan kemiskinan di NTT sudah dilaksanakan sejak era Orde Baru, masalah itu tidak pernah surut dari provinsi berpenduduk 4.110.929 jiwa ini (Februari 2004). Kini 30,74 persen penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan.
Sebanyak 77,8 persen penduduknya masih berpendidikan sekolah dasar (SD). Penduduk yang buta huruf, 13,28 persen dari penduduk usia sekolah, 3.007.510 orang. Tingkat kematian ibu hamil tinggi, yakni 550 ibu hamil mati di antara 100.000 kelahiran, dan 50 bayi mati di antara 1.000 kelahiran.
Busung lapar
Status gizi buruk dan kurang gizi balita pun masih tinggi, 35,5 persen. Di antara 100.000 penduduk hanya ada tujuh dokter, tetapi dokter hanya ada di kota kecamatan dan jumlahnya sangat terbatas karena mereka terkonsentrasi di kota kabupaten dan provinsi.
Hal terakhir inilah beberapa waktu lalu menyita banyak perhatian media massa: terjadi kasus busung lapar dan gizi buruk dalam jumlah besar di daerah yang dijuluki “pada eweta manda elu” atau “padang rumput hijau” ini.
Menurut Data Dinas Kesehatan Provinsi NTT per tanggal 6 Juni 2005, sebanyak 55.543 anak balita menderita kurang gizi dan bahkan 11.015 anak lainnya mengalami gizi buruk. Dan dari 128 kasus busung lapar di NTT, paling banyak ditemukan di Kabupaten Sumba Barat yaitu 39 kasus. Sedangkan dari data Dinas Kesehatan Sumba Barat, dari sekitar 53.555 balita di sana ditemukan 1.599 anak menderita gizi buruk, 6.788 gizi kurang, dan 137 orang menderita marasmus/kwashiokor.
Posyandu
Menyimak data-data itu, tim kecil dari Indofood pun melakukan survei lapangan pada Agustus lalu. Tujuannya untuk memastikan daerah mana yang paling membutuhkan bantuan dan juga agar tepat sasaran. Alhasil, tim survei menemukan daerah yang paling banyak balita menderita kekurangan gizi di Kabupaten Sumba Barat adalah Kecamatan Lamboya, dan Kecamatan Loli, dan Kota Waikabubak. Dari sanalah kemudian Indofood bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Sumbar menyelenggarakan Program Peduli Sosial dengan cara merevitalisasi 40 Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di ketiga daerah itu.
Sebagai wujud dukungan, Indofood langsung turun ke daerah menyerahkan bantuan bagi anak-anak yang mengalami kekurangan gizi. Bantuan tersebut berupa perlengkapan Posyandu seperti timbangan bayi, timbangan gantung balita, kartu menuju sehat (KMS) 5.000 lembar, 200 potong kaos kader Posyandu. Selain itu, diserahkan produk makanan pendamping ASI (MP-ASI) dan roti marie untuk keperluan selama tiga bulan ke depan bagi 1.250 balita di 40 Posyandu.
Bantuan diserahkan Wakil Kepala Divisi Personalia PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Frans A Toisuta, kepada Bupati Sumba Barat, Drs Julianus Pote Leba, MSi, di Kampung Mude, Desa Kabukarudi, Kecamatan Lamboya, Kamis (22/9). Hadir dalam kesempatan itu, Kapolers Sumba Barat, AKBP SM Panjaitan, Dandim 1613, Letkol (Inf) I Made Datrawan, Kajari Waikabubak, Tama Sembiring SH, Wakil Ketua DPRD Alex Dapawole serta sejumlah pimpinan dinas terkait.
“Pemberian bantuan ini merupakan upaya Indofood membantu menghidupkan kembali Posyandu di wilayah yang dirasa memerlukan kehadiran Posyandu. Dengan pemberian bantuan makanan tambahan tiga bulan ke depan, diharapkan ibu-ibu rajin mendatangi Posyandu terdekat selain mendapatkan makanan pendamping juga memeriksakan kesehatan anak balita secara rutin,” ucap Frans.
Lebih jauh ia menjelaskan, dukungan Indofood dalam merevitalisasi 40 Posyandu di Sumbar merupakan pilot project yang nantinya akan dikembangkan ke tempat lain di Indonesia yang juga banyak terdapat bayi yang kekurangan gizi. Sebagai wujud tanggungjawab sosial terhadap penyiapan generasi mendatang, bulan November nanti PT ISM Tbk Bogasari Flour Mills berencana menggelar simposium nasional penganekaragaman pangan dengan tema; “Konstruksi Sosial Penanganan dan Pencegahan Busung Lapar”.
“Tujuan simposium untuk membahas serta mensosialisasikan hasil kajian dan pemikiran tentang bagaimana bentuk konstruksi sosial yang dapat diwujudkan guna mengatasi busung lapar dan masalah gizi dengan alternatif penganekaragaman pangan,” papar Roland Taunay, manajer Public Relations Department Bogasari
Keterangan Gambar: Kepala Divisi Personalia PT Indofood, Frans A Toisuta memberi Makanan Pendamping Asi (MP ASI) produk Indofood kepada seorang bayi saat menyerahkan bantuan kepada bayi gizi kurang di Kampung Mude, Desa Kabukarudi, Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat, Kamis (22/9)